Tak perlu mengenal siapa aku yang sebenarnya, aku hanya ingin karya ini dapat bermanfaat dan menyadarkan kita tentang banyak hal… yang kau perlu ketahui, bahwa “AKU HANYA INGIN BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN HINGGA AKHIR KETIKAKU HARUS KEMBALI KEPADA SANG KHALIQ”
NIM : 13050110110005
Tak perlu mengenal siapa aku yang sebenarnya, aku hanya ingin karya ini dapat bermanfaat dan menyadarkan kita tentang banyak hal… yang kau perlu ketahui, bahwa “AKU HANYA INGIN BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN HINGGA AKHIR KETIKAKU HARUS KEMBALI KEPADA SANG KHALIQ” , “ SADARLAH TANPA MEMINJAM KESADARAN ORANG LAIN”
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kondisi cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Indonesia belakangan ini terjadi akibat fenomena alam La Nina. Fenomena itu berupa penghangatan suhu muka laut sebesar 0,5 hingga 2 derajat Celsius, yang mengakibatkan penguatan aliran udara dari Pasifik Tengah ke Pasifik Barat atau Indonesia.
"Di Indonesia, terjadi penumpukan uap air sehingga potensi terbentuknya awan hujan menjadi tinggi," kata Deputi Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Soeroso Hadiyanto, dalam keterangan pers di kantor BMKG, Jakarta, kemarin. Akibatnya, pada bulan-bulan pertengahan tahun seperti ini, yang seharusnya cuaca cenderung kering, ternyata dalam beberapa minggu masih turun hujan.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan sepanjang Juli hingga Agustus di atas 50 mm per hari. Ini berarti hampir semua provinsi mengalami hujan dengan frekuensi yang cenderung meningkat. Juli hingga Agustus adalah bulan pancaroba atau peralihan. “Musim hujan baru akan bermula pada September," ucap Soeroso.
Adapun kondisi pancaroba adalah cuaca berubah-ubah secara mendadak dan berlangsung singkat. Soeroso mencontohkan, dapat terjadi hujan berintensitas tinggi dengan angin kencang dan petir, namun dengan durasi singkat. "Ini harus diperhatikan dan diwaspadai," ucapnya.
Menurut Kepala Sub-Bidang Informasi Meteorologi Hary Tirto Djatmiko, La Nina membuat suhu perairan menjadi paling hangat dalam 12 tahun terakhir sehingga memunculkan penyimpangan. Berbeda dengan tahun 2009, ketika musim hujan datang terlambat, yakni pada Desember, kini musim hujan datang pada September menjelang Lebaran. Maka ia mengimbau pemudik Lebaran mewaspadai cuaca ekstrem.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengantisipasi cuaca ekstrem. Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Catharina Suryowati menuturkan, pohon-pohon di pinggir jalan mulai dipangkas. “Program pemangkasan pohon dilaksanakan di lima wilayah Jakarta,” katanya. Catharina pun mengimbau pemakai jalan agar menghindari jalan-jalan yang memiliki pohon rindang pada saat hujan lebat agar tak menjadi korban pohon tumbang.
“ Ketika kau dalam kegelapan, jangan menangis, jangan menjerit, jangan takut. Karena dengan kegelapan itu, kau akan terbiasa dan tanpa kau sadari lama kelamaan kau akan melihat cahaya… JANGAN TAKUT SAUDARAKU”
Hari ini, saya ingin mendatangkan tokoh yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Artikel ini saya kutip dari sebuah Facebook seseorang tak dikenal. Walaupun saya tidak mengenal akhwat ini, akan tetapi saya setuju dengan argumen yang ditulis.
Seorang akhwat yang aktif dan tidak pernah mengeluh, setiap saat selalu semangat dalam menjalani hidupnya. Hidupnya dipenuhi dengan rasa syukur kepada Allah SWT. , setiap saat selalu berdakwah di jalan Allah SWT. , setiap saat selalu menghabiskan waktunya dengan hal – hal yang bermakna dan berarti. Akhwat yang dapat dijadikan panutan oleh siapa saja, lembut, dan keibuan.
Beliau adalah orang yang bijaksana dan tahu cara menempatkan dirinya pada posisi apapun. Ketika pertemuan pertama saya dengan beliau, subhanallah…. Beliau adalah orang ke tiga dari Fakultas Ilmu Budaya yang saya kenal, saat itu bersama dua akhwat yang lain saya kemudian berpikir, “ Jika dakwah benar – benar ingin dijalankan, maka seperti inilah dakwah sebenarnya.”
Saat itu ada tiga akhwat yang berbeda karakter yang saya temui dan menginspirasi saya banyak hal. Akhwat pertama adalah mahasiswa FIB UNDIP, ramah dan tidak pantang menyerah untuk menjalankan dakwah di jalan Allah. Mengapa saya berkata demikian, karena saya mengalaminya sendiri. Saat itu, beliau adalah akhwat yang pertama saya kenal. Ketika ada sebuah agenda, beliau mengajak saya tapi pada saat itu saya adalah gadis hedonis yang hanya mementingkan hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Hari ke dua, beliau mengajak saya lagi. Begitu selanjutnya, hingga pada akhirnya saya memberanikan diri untuk datang bahkan untuk datang sendiripun saya berani.
Akhwat kedua adalah seorang yang ceria dan easy going. Bahkan orang yang tidak mengerti agama seperti sayapun pasti akan senang bersahabat dengan beliau. Keceriaannya inilah yang membuat saya tidak segan untuk selalu bersama beliau. Karena beliau saya mengenal banyak hal tentang organisasi dan hidup sebenarnya. Selain ceria, beliau juga sangat penyayang. Dengan sapaannya pada saya “dek” saya terkadang terharu dengan sebutan itu.
Sisa liburan saya, saya habiskan bersamanya, dengan kisah – kisahnya dan segalanya yang membuat saya betah dan tidak bosan.
Dan akhwat yang terakhir adalah akhwat yang lembut dan aktif. Saat pertama kali mengenalnya beliau begitu ramah dan mempunyai banyak pengetahuan tentang dunia. Beliau adalah akhwat yang tangguh itu.
Ketika saya mengikuti sebuah acara, terlintas dipikiran saya, “ Wah keren ya seandainya saya bisa ramah, ceria, dan lembut tapi aktif seperti mereka. “
Tiga akhwat ini begitu subhanallah….. Akan tetapi masih banyak ikhwan – akhwat subhanallah yang dapatt menginspirasi banyak orang.
Lembut tapi aktif. Saya sempat mengira bahwa kelembutannya mendatangkan kelemahann ternyata saya salah besar. Justru beliau adalah orang yang kuat dan tegar dalam menghadapi dunia, semangatnya dalam segala hal membuat saya terinspirasi dan mulai membangun semangat. Bukan hanya semangat akhirat melainkan semangat untuk mencapai mimpi – mimpi duniapun diladenin.
Beliau mempunyai motivasi bahwa “tempat peristirahatan sebenarnya adalah akhirat”. Subhanallah, dengan aktifitas yang padat beliau tidak pernah mengeluh capek, lelah, atau apalah. Beliau hanya tersenyum dan terkadang ketika agenda tarbawih beliau tertidur, tapi subhanallah beliau tidak langsung saja membiarkan matanya tertutup, beliau menahan dan berusaha untuk mendengarkan agenda tersebut.
Inilah yang menginspirasi saya untuk tetap bertahan dalam gelapnya malam, dalam tajamnya duri, dan dalam kerasnya dunia.
“Apapun yang terjadi aku sangat yakin, ketika gelapnya malam datang padaku aku yakin cahaya matahari akan terbit setelah itu. Duri yang tajam itu aku tahu akan melukaiku, tapi tanpa tusukan duri itu tak akan tahu betapa sakitnya duri itu, dan kutahu kerasnya dunia itu, tapi dengan semangat dan kata PANTANG MENYERAH kan kita genggam dunia dengan semangat…”